Assalamualaikum Warahmatulllahi Wabarakatuh
Selamat datang di blog saya,,,
saya mengharapkan blog ini menjadi referensi bagi teman-teman, rekan-rekan bahkan semua orang yang membuka blog ini....
dan semoga apa yang saya kirimkan dan yang saya tayangkan ini dapat berguna bagi teman-teman,,,
:)
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,,,
Jumat, 03 Agustus 2012
Rabu, 01 Agustus 2012
BUKU BAHAN AJAR
Pengertian Buku Ajar
Buku
ajar adalah
buku yang disusun untuk kepentingan proses pembelajaran baik yang bersumber
dari hasil-hasil penelitian atau hasil dari sebuah pemikiran tentang sesuatu
atau kajian bidang tertentu yang kemudian dirumuskan menjadi bahan
pembelajaran. Buku ajar merupakan salah satu jenis bahan ajar yang berupa bahan
cetak.
Pengertian
Bahan Ajar
Bahan
ajar adalah
merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru / instruktur untuk
perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Fungsi Bahan Ajar
waktu untuk memberikan bantuan maksimal guna mendukung proses pembelajaran bagi mahasiswa. Hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai penyebab, meliputi hambatan teknis dan non-teknis yang menghalangi dosen untuk menjadi fasilitator yang baik.
Sistematika Penulisan Buku Bahan Ajar
1. cover.
dalam pembuatan cover, kita bisa saja menggunakan berbagai aplikasi sehingga cover akan terlihat lebih menarik. aplikasi nya antara lain Photoshop, corel draw, dll...
contoh cover sederhana, silahkan download Disini
contoh cover sederhana, silahkan download Disini
2. kata sambutan
3. kata pengantar
4. daftar isi.
5. pendahuluan
pendahuluan terdiri dari:
- kerangka isi yaitu penjelasan singkat dari isi buku yang akan di tulis
- tujuan penulisan yaitu tujuan dari buku yang akan kita tulis
- deskripsi singkat yaitu penjelasan tentang isi bab dari buku tsb
- relevansi isi bab yaitu hubungan antar bab
- kata kunci yaitu kata-kata yang akan menjelaskan isi dari buku
- pada bagian awal isi, diisi dengan bab-bab misalnya bab 1, bab 2, dll
- di awal juga diisi dengan tujuan dari bab tsb.
- isi dari bab tsb.
- penutup dari isi biasanya diisi dengan rangkuman isi bab dan latihan soal.
halaman akhir antara lain:
- daftar pustaka
- lampiran
- glosarry
- indeks
silahkan download contohnya Disini
sekian penjelasan saya tentang buku bahan ajar,,,
semoga dapat bermanfaat,,,
Sabtu, 28 Juli 2012
swishmax
Swishmax adalah aplikasi yang sama dengan Macromedia Flash MX. Namun perbedaannya, SwishMax lebih
mudah dalam penerapannya dibandingkan dengan Flash MX. tentu saja cocok untuk pemula yang ingin menggunakan animasi dalam membuat apapun. namun, program SwishMax sudah lebih dari cukup untuk membuat berbagai animasi flash apalagi kelengkapan fitur pada SwishMax
semakin ditambah. Kelebihan lainnya, bila sudah mahir
menggunakan SwishMax, maka akan lebih muydah menggunakan Macromedia Flash MX.
untuk mendownload dasar-dasar dari swishmax, cara membuat animasi, dan lain-lain, silahkan download di bawah ini :
sumber : iamlombok.blogspot.com
untuk mendownload dasar-dasar dari swishmax, cara membuat animasi, dan lain-lain, silahkan download di bawah ini :
- Animas Teks dan Gambar >>
-Suara dan Button >>
-Menu dan Sprite>>
Dan anda bisa membaca artikel di bawah ini...
-Pengertian dan tools pada swishmax
untuk pembuatan animasi flash dengan swishmax, silahkan kunjungi alamat dibawah ini...
Tutorial animasi swishmax
sumber : iamlombok.blogspot.com
Kamis, 17 Mei 2012
Perkembangan Peserta Didik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tugas-Tugas Perkembangan
Robert
Havighrust (Adam & Gullota, 1983) melalui perspektif psikososial
berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk
menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Tugas-tugas ini berkaitan
erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama,
dan hal lainnya sebagai prasyarat untuk pemenuhan dan kebahagiaan hidupnya.
Selanjutnya Havighrust (1961) mengartikan tugas-tugas perkembangan itu sebagai berikut :
Bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Selanjutnya Havighrust (1961) mengartikan tugas-tugas perkembangan itu sebagai berikut :
Bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Tugas-tugas
perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku, atau keterampilan yang
seyogianya dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia atau fase
perkembangannya. Hurlock (1981) menyebut tugas-tugas perkembangan ini sebagai
ini sebagai social expectations. Dalam arti, setiap kelompok budaya
mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan
memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang
kehidupan.
Setiap individu tumbuh dan berkembang selama perjalanan kehidupannya melalui beberapa periode atau fase-fase perkembangan. Setiap fase perkembangan mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh setiap individu. Sebab, kegagalan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada fase tertentuakan memperlancar pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya
Seorang ahli psikologi yang dikenal luas dengan teori-teori tugas-tugas perkembangan adalah Robert J. Havighust (Hurlock, 1990). Dia mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Tugas-tugas perkembangan tersebut beberapa diantaranya muncul sebagai akibat kematangan fisik, sedangkan yang lain berkembang karena adanya aspirasi budaya , sementara yang lain lagi tumbuh dan berkembang karena nilai-nilali dan aspirasiindividu.
Setiap individu tumbuh dan berkembang selama perjalanan kehidupannya melalui beberapa periode atau fase-fase perkembangan. Setiap fase perkembangan mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh setiap individu. Sebab, kegagalan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada fase tertentuakan memperlancar pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya
Seorang ahli psikologi yang dikenal luas dengan teori-teori tugas-tugas perkembangan adalah Robert J. Havighust (Hurlock, 1990). Dia mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Tugas-tugas perkembangan tersebut beberapa diantaranya muncul sebagai akibat kematangan fisik, sedangkan yang lain berkembang karena adanya aspirasi budaya , sementara yang lain lagi tumbuh dan berkembang karena nilai-nilali dan aspirasiindividu.
B.
Sumber Tugas Perkembangan
Munculnya
tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor-faktor berikut :
1. Kematangan fisik, misalnya (a) belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki; (b) belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
2. Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya (a) belajar membaca; (b) belajar menulis; (c) belajar berhitung; (d) belajar berorganisasi.
3. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri, misalnya (a) memilih pekerjaan; (b) memilih teman hidup.
4. Tuntutan norma agama, misalnya (a) taat beribadah kepada Alloh; (b) berbuat baik kepada sesame manusia.
1. Kematangan fisik, misalnya (a) belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki; (b) belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
2. Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya (a) belajar membaca; (b) belajar menulis; (c) belajar berhitung; (d) belajar berorganisasi.
3. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri, misalnya (a) memilih pekerjaan; (b) memilih teman hidup.
4. Tuntutan norma agama, misalnya (a) taat beribadah kepada Alloh; (b) berbuat baik kepada sesame manusia.
Tugas-tugas
perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat bermanfaat bagi individu
dalam menyelesaikan tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut:
1. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari merekapadausia-usiatertentu.
2. Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya.
3. Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki tingkat perkembangan berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan ada yang dapat diselesaikan dengan baik, ada juga yang mengalami hambatan. tidak dapat diselesaikannya dengan baik suatu tugas perkembangan dapat menjadi suatu bahaya potensial yang menjadi penghambat penyelesaian tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut :
1. Harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologis.
2. Melangkahi tahap-tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu.
3. Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain.
1. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari merekapadausia-usiatertentu.
2. Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya.
3. Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki tingkat perkembangan berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan ada yang dapat diselesaikan dengan baik, ada juga yang mengalami hambatan. tidak dapat diselesaikannya dengan baik suatu tugas perkembangan dapat menjadi suatu bahaya potensial yang menjadi penghambat penyelesaian tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut :
1. Harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologis.
2. Melangkahi tahap-tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu.
3. Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain.
C. Tugas Perkembangan Masa
Bayi dan Kanak-Kanak Awal (0,0–6.0)
- Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan.
- Belajar memakan makan padat.
- Belajar berbicara.
- Belajar buang air kecil dan buang air besar.
- Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.
- Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.
- Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam.
- Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain.
- Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.
D. Tugas Perkembangan Masa
Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6,0-12.0)
- Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
- Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
- Belajar bergaul dengan teman sebaya.
- Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
- Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
- Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
- Mengembangkan kata hati.
- Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
- Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.
E. Tugas Perkembangan Masa
Remaja (12.0-21.0)
- Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
- Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.
- Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
- Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
- Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.
- Memilih dan mempersiapkan karier.
- Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
- Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.
- Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.
- Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.
F. Tugas Perkembangan Masa
Dewasa
- Memilih pasangan.
- Belajar hidup dengan pasangan.
- Memulai hidup dengan pasangan.
- Memelihara anak.
- Mengelola rumah tangga.
- Memulai bekerja.
- Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
- Menemukan suatu kelompok yang serasi.
Sementara itu, Depdiknas
(2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia
tingkat SLTP dan SMTA, yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi
Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, yaitu :
1. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP
- Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat.
- Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita.
- Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas.
- Mengenal kemampuan bakat, dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni.
- Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat.
- Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi.
- Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan minat manusia.
2. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA
- Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita.
- Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat
- Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi, dan kesenian sesuai dengan program kurikulum, persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
- Mencapai kematangan dalam pilihan karir
- Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi.
- Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
- Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni.
- Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Havighrust mendefinisikan tugas
perkembangan, adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode
tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan fase
bahagia dan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya.
Akan tetapi, kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan
dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.
Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada pusakan penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Ada sejumlah tugas perkembangan remaja yang penting, yaitu :
1. Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis
2. Mencapai peran sosial maskulin dan feminin
3. Menerima keadaan fisik dan dapat mempergunakannya secara efektif
4. Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5. Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi
6. Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja
7. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga
8. Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara
9. Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
10. Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku. (Havighurst dalam Hurlock, 1973).
Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada pusakan penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Ada sejumlah tugas perkembangan remaja yang penting, yaitu :
1. Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis
2. Mencapai peran sosial maskulin dan feminin
3. Menerima keadaan fisik dan dapat mempergunakannya secara efektif
4. Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5. Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi
6. Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja
7. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga
8. Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara
9. Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
10. Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku. (Havighurst dalam Hurlock, 1973).
Tidak semua remaja dapat memenuhi
tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah
yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
Demikianlah hasil dari pembuatan
makalah kami. Kami berharap makalah
dapat berguna bagi siapa saja yang membaca makalah ini. Apabila ada
saran dan kritik dari saudara, kami akan menerima dengan rendah hati guna penyempurnaan
makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Yusuf, Syamsu. (2008). Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Hurlock, Elizabeth B. (1980).
Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.
Ali, Mohammad. Psikologi
Perkembangan : Aksara
http://lmupsikologi.wordpress.com/2009/12/11/tugas-perkembangan-remaja/
http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/05/tugas-tugas-perkembangan
remaja.html
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/remaja.html
http://downixs.wordpress.com/2010/01/06/tugas-perkembanganremaja/#more-290
http://darsanaguru.blogspot.com/2008/03/perkembangan-psikologi-remaja.html
Lihat juga :
Lihat juga :
Profesi Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KOMPETENSI
Kompetensi
dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilam dan kemampuan yang dikuasai
oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat
melakukan perilaku-perilaku kognitif, efektif dan pskimotorik dengan
sebaik-baiknya. Menurut kamus umum
bahasa Indonesia (WJS. Purwadarminta) Kompetensi berarti (kewenangan) kekuasaan
untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Pengertian dasar kompetensi yakni
kemampuan atau kecakapan.
Menurut Finch dan Crunkilton Kompetensi adalah : penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Sementara itu, menurut Kepmendiknas 045/U/2002 adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu.
Lebih lanjut Gordon dan Mulyasa, (2005) merinci beberapa aspek yang ada dalam konsep kompetensi yakni :
1. Pengetahuan (Knowledge) yaitu kesadaran dalam bidang kognitif
Menurut Finch dan Crunkilton Kompetensi adalah : penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Sementara itu, menurut Kepmendiknas 045/U/2002 adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu.
Lebih lanjut Gordon dan Mulyasa, (2005) merinci beberapa aspek yang ada dalam konsep kompetensi yakni :
1. Pengetahuan (Knowledge) yaitu kesadaran dalam bidang kognitif
2.
Pemahaman (Understanding) yaitu sesuatu yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan
tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
3. Kemampuan (Skill) yaitu suatu standar prilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang.
3. Kemampuan (Skill) yaitu suatu standar prilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang.
4.
Nilai pendalaman kognitif dan afektif
yang dimiliki individu.
5. Sikap perasaan atau reaksi suatu rangsangan yang datang dari luar
5. Sikap perasaan atau reaksi suatu rangsangan yang datang dari luar
6.
Minat (Interest) yaitu kecendrungan
seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.
B. PENGERTIAN PEDAGOGIK
Jika dilihat dari segi istilah, pedagogik sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu paedos (anak) dan agogos (mengantar, membimbing, memimpin). Dari dua istilah diatas timbul istilah baru yaitu paedagogos dan pedagog, keduanya memiliki pengertian yang hampir serupa, yaitu sebutan untuk pelayan pada zaman Yunani kuno yang mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah setelah sampai di sekolah anak dilepas, dalam pengertian pedagog intinya adalah mengantarkan anak menuju pada kedewasaan.
Istilah lainnya yaitu Paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak, Pedagogi yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah ”Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak”.
Pedagogik secara jelas memiliki kegunaan diantaranya bagi pendidik untuk memahami fenomena pendidikan secara sistematis, memberikan petunjuk tentang yang seharusnya dilaksanakan dalam mendidik, menghindari kesalahan-kesalahan dalam praktek mendidik anak juga untuk ajang untuk mengenal diri sendiri dan melakukan koreksi demi perbaikan bagi diri sendiri.
Disamping itu pedagogik juga merupakan suatu ilmu, sehingga orang menyebutnya ilmu pedagogik. Ilmu pedagogik adalah ilmu yang membicarakan masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya.
Pedagogik termasuk ilmu yang sifatnya teoritis dan praktis. Oleh karena itu pedagogik banyak berhubungan dengan ilmu-ilmu lain seperti: ilmu sosial, ilmu psikologi, psikologi belajar, metodologi pengajaran, sosiologi, filsafat dan lainya. Kompetensi Pedagogik meliputi :
1. Memahami
peserta didik secara mendalam.
2. Merancang
pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan
pembelajaran.
3. Melaksanakan pembelajaran
4. Merancang
dan melaksanakan evaluasi pembelajaran
5. Mengembangkan
peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya.
C. PERENCANAAN PROGRAM BELAJAR MENGAJAR PEDAGOGIK
Dalam UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dikemukakan kompetensi pedagogic adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”. Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran”. Kompetensi ini dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian. Kompetensi menyusun rencana pembelajaran menurut Joni (1984:12), kemampuan merencanakan program belajar mengajar mencakup kemampuan :
1. Merencanakan pengorganisasian bahan-bahan
pengajaran:
a) Berpedoman kepada bahan pengajaran yang tercantum dalam kurikulum
b) Memilih dengan tepat bahan pengajaran bidang studi sesuai dengan karakteristik murid.
c) Menyusun bahan pengajaran sesuai dengan taraf berfikir peserta didik.
a) Berpedoman kepada bahan pengajaran yang tercantum dalam kurikulum
b) Memilih dengan tepat bahan pengajaran bidang studi sesuai dengan karakteristik murid.
c) Menyusun bahan pengajaran sesuai dengan taraf berfikir peserta didik.
2. Merencanakan
pengelolaan kegiatan belajar mengajar:
a) Merumuskan TPK
b) Menentukan metode mengajar
c) Menentukan langkah-langkah mengajar
d) Menentukan cara-cara memotivasi murid.
a) Merumuskan TPK
b) Menentukan metode mengajar
c) Menentukan langkah-langkah mengajar
d) Menentukan cara-cara memotivasi murid.
3. Merencanakan
pengelolaan kelas:
a) Mengatur tempat duduk sesuai dengan strategi yang digunakan
b) Menentukan alokasi penggunaan waktu belajar mengajar
c) Menentukan cara mengorganisasi murid agar terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar
a) Mengatur tempat duduk sesuai dengan strategi yang digunakan
b) Menentukan alokasi penggunaan waktu belajar mengajar
c) Menentukan cara mengorganisasi murid agar terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar
4. Merencanakan
penggunaan media dan sumber pengajaran:
a) Menentukan pengembangan alat pengajaran
b) Menentukan media pengajaran
c) Menentukan sumber pengajaran.
a) Menentukan pengembangan alat pengajaran
b) Menentukan media pengajaran
c) Menentukan sumber pengajaran.
5. Merencanakan
penilaian prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran:
a) Menentukan bermacam-macam bentuk dan prosedur penilaian
b) Membuat alat penilaian hasil belajar.
a) Menentukan bermacam-macam bentuk dan prosedur penilaian
b) Membuat alat penilaian hasil belajar.
D.
KEMAMPUAN MENGELOLA PEMBELAJARAN PEDAGOGIK
Kemampuan mengelola pembelajaran, meliputi :
Kemampuan mengelola pembelajaran, meliputi :
a. Pemahaman
peserta didik
b. Perancangan,
pelaksanaan dan evaluasi hasil belajar
c. Pengembangan
peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Menurut
Dwi Siswoyo, kompetensi Pedagogik bukanlah kompetensi yang hanya bersifat
teknis belaka, yaitu “kompetensi mengelola peserta didik..” (yang dirumuskan
dalam PP RI No. 19 tahun 2005), karena “pedagogy” or “paedagogy” adalah “the
art and science of teaching and educating”(Dwi Siswoyo:2006).
Sehubungan dengan itu guru dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai dalam mengelola pembelajaran. Secara operasional kemampuan mengelola pembelajaran menyangkut tiga fungsi manajerial, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian.
Sehubungan dengan itu guru dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai dalam mengelola pembelajaran. Secara operasional kemampuan mengelola pembelajaran menyangkut tiga fungsi manajerial, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian.
1.
perencanaan menyangkut penetapan tujuan,
dan kompetensi, serta memperkirakan cara pencapaiannya. Perencanaan merupakan
fungsi sentral dari manajemen pembelajaran dan harus berorientasi kemasa depan.
Guru sebagai manajer pembelajaran harus mampu mengambil keputusan yang tepat
untuk mengelola berbagai sumber.
2.
Pelaksanaan adalah proses yang
memberikan kepastian bahwa proses belajar mengajar telah memiliki sumber daya
manusia dan sarana prasarana yang diperlukan, sehingga dapat membentuk
kompetensi dan mencapai tujuan yang diinginkan.
3.
Pengendalian atau evaluasi bertujuan
untuk menjamin kinerja yang dicapai sesuai dengan rencana atau tujuan yang
telah ditetapkan. Guru diharapkan membimbing dan mengarahkan pengembangan
kurikulum dan pembelajaran secara efektif, serta memerlukan pengawasan dalam
pelaksanaannya. Guru merupakan seorang manajer dalam pembelajaran, yang
bertanggung jawab terhadap perencanaan,pelaksanaan, dan penilaian perubahan
atau perbaikan program pembelajaran.
Kompetensi
pedagogik ini mencakup pemahaman dan pengembangan potensi peserta didik,
perencanan dan pelaksanaan pembelajaran, serta system evaluasi pembelajaran,
juga harus menguasai “ilmu pendidikan”.
Ilmu pendidikan merupakan ilmu dasar untuk memahami kegiatan yang disebut pendidikan atau kegiatan mendidik. Ilmu pendidikan dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang memberikan uraian yang lengkap, sistematis dan metodis tentang masalah-masalah yang ada kaitannya dengan proses pendidikan atau kegiatan mendidik. Maka berarti ilmu pendidikan itu suatu ilmu pengetahuan yang ilmiah yang tidak usah diragukan lagi kebenarannya karena sudah memiliki kriteria persyaratan ilmu pengetahuan yang ilmiah yaitu memilih objek, metode dan sistematika yang jelas dan pasti.
Ilmu pendidikan merupakan ilmu dasar untuk memahami kegiatan yang disebut pendidikan atau kegiatan mendidik. Ilmu pendidikan dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang memberikan uraian yang lengkap, sistematis dan metodis tentang masalah-masalah yang ada kaitannya dengan proses pendidikan atau kegiatan mendidik. Maka berarti ilmu pendidikan itu suatu ilmu pengetahuan yang ilmiah yang tidak usah diragukan lagi kebenarannya karena sudah memiliki kriteria persyaratan ilmu pengetahuan yang ilmiah yaitu memilih objek, metode dan sistematika yang jelas dan pasti.
E.
KOMPETENSI GURU MENURUT PERMENDIKNAS NO.16 TAHUN 2007
Menurut Permendiknas No. 16 tahun 2007
tentang Standard Kualifikasi dan Kompetensi guru, Kompetensi kepribadian adalah
kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak
harus memiliki nilai-nilai luhur sehinnga terpencar dalam perilaku
sehari-hari. Kompetensi ini meliputi:
1. Bertindak sesuai dengan norma agama,
hukum, sosial, dan
kebudayaan nasional Indonesia,
meliputi:
a.
Menghargai
peserta didik tanpa membedakan keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat,
daerah asal, dan gender;
b.
Bersikap
sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan sosial yang berlaku dalam
masyarakat, dan kebudayaan nasional Indonesia yang beragam.
2. Menampilkan diri sebagai pribadi
yang jujur, berakhlak mulia, dan
teladan bagi peserta didik dan
masyarakat, meliputi:
a.
Berperilaku
jujur, tegas, dan manusiawi;
b.
Berperilaku
yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia;
c.
Berperilaku
yang dapat diteladan oleh peserta didik dan anggota masyarakat di sekitarnya.
3. Menampilkan diri sebagai pribadi
yang mantap, stabil, dewasa, arif,
dan berwibawa, meliputi:
a)
Menampilkan
diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil;
b)
Menampilkan
diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa.
4. Menunjukkan etos kerja, tanggung
jawab yang tinggi, rasa bangga
menjadi guru, dan rasa percaya
diri, meliputi:
a)
Menunjukkan
etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi;
b)
Bangga
menjadi guru dan percaya pada diri sendiri;
c)
Bekerja
mandiri secara professional.
5. Menjunjung tinggi kode etik profesi
guru, meliputi:
a)
Memahami
kode etik profesi guru;
b)
Menerapkan
kode etik profesi guru;
c)
Berperilaku
sesuai dengan kode etik profesi guru.
2. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial meliputi: (1)
memiliki empati pada orang lain, (2) memiliki toleransi pada orang lain, (3)
memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi
yang lain, dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain.
Menurut Gadner (1983) dalam
Sumardi (Kompas, 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai social
intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu
dari sembilan kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam,
dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner.
Semua kecerdasan itu dimiliki oleh
seseorang. Hanya saja, mungkin beberapa di antaranya menonjol, sedangkan yang
lain biasa atau bahkan kurang. Uniknya lagi, beberapa kecerdasan itu bekerja
secara padu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu
(Amstrong, 1994).
Sehubungan dengan apa yang dikatakan
oleh Amstrong itu ialah bahwa walau kita membahas dan berusaha mengembangkan
kecerdasan sosial, kita tidak boleh melepaskannya dengan kecerdasan-kecerdasan
yang lain. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak muncul
berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang hanya dapat dipahami dan dipecahkan
melalui pendekatan holistik, pendekatan komperehensif, atau pendekatan
multidisiplin.
Kecerdasan lain yang terkait erat
dengan kecerdasan sosial adalah kecerdasan pribadi (personal intellegence),
lebih khusus lagi kecerdasan emosi atau emotial intellegence (Goleman,
1995). Kecerdasan sosial juga berkaitan erat dengan kecerdasan keuangan
(Kiyosaki, 1998). Banyak orang yang terkerdilkan kecerdasan sosialnya karena
impitan kesulitan ekonomi.
Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran
kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti
karier di masyarakat, lembaga, atau perusahaan. Banyak orang sukses yang kalau
kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama, berempati, dan
pengendalian diri yang menonjol.
Dari uraian dan contoh-contoh di atas
dapat kita singkatkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang
berkomunikasi, bergaul, bekerja sama, dan memberi kepada orang lain. Inilah
kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan
oleh UU Guru dan Dosen, yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada
anak-anak didiknya.
Untuk
mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik, kita perlu tahu target atau
dimensi-dimensi kompetensi ini. Beberapa dimensi ini, misalnya, dapat kita
saring dari konsep life skills. Dari 35 life skills atau
kecerdasan hidup itu, ada 15 yang dapat dimasukkan kedalam dimensi kompetensi
sosial, yaitu: (1) kerja tim, (2) melihat peluang, (3) peran dalam kegiatan
kelompok, (4) tanggung jawab sebagai warga, (5) kepemimpinan, (6) relawan
sosial, (7) kedewasaan dalam bekreasi, (8) berbagi, (9) berempati, (10)
kepedulian kepada sesama, (11) toleransi, (12) solusi konflik, (13) menerima
perbedaan, (14) kerja sama, dan (15) komunikasi.
Kelima belas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan
topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi para
pendidik dan calon pendidik. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi
ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual
dengan kehidupan masyarakat kita.
Dari uraian
tentang profesi dan kompetensi guru, menjadi jelas bahwa pekerjaan/jabatan guru
adalah sebagai profesi yang layak mendapatkan penghargaan, baik finansial
maupun non finansial.
Pada
Permendiknas No. 16 tahun 2007, Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik
sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif
dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali
peserta didik dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini meliputi:
1.
Bersifat inklusif, bertindak objektif,
serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras,
kondisi, fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi,
meliputi:
a.
Bersikap
inklusif dan objektif terhadap peserta didik, teman sejawat dan lingkungan
sekitar dalam melaksanakan pembelajaran;
b.
Tidak
bersikap diskriminatif terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua
peserta didik dan lingkungan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis
kelamin, latar belakang keluarga, dan status sosial-ekonomi.
2.
Berkomunikasi secara efektif, empatik,
dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan
masyarakat, meliputi:
a.
Berkomunikasi
dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun, empatik dan
efektif;
b.
Berkomunikasi
dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara santun, empatik, dan
efektif tentang program pembelajaran dan kemajuan peserta didik;
c.
Mengikutsertakan
orang tua peserta didik dan masyarakat dalam program pembelajaran dan dalam
mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
3.
Beradaptasi di tempat bertugas di
seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya,
meliputi :
a.
Beradaptasi
dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai
pendidik;
b.
Melaksanakan
berbagai program dalam lingkungan kerja untuk mengembangkan dan meningkatkan
kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan’
4.
Berkomunikasi dengan komunitas profesi
sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain, meliputi:
a.
Berkomunikasi
dengan teman sejawat, profesi ilmiah, dan komunitas ilmiah lainnya melalui
berbagai media dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran;
b.
Mengkomunikasikan
hasil-hasil inovasi pembelajaran kepada komunitas profesi sendiri secara lisan
dan tulisan maupun bentuk lain.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Pedagogik bertugas untuk mempelajari fenomena pendidikan untuk sampai membangun suatu pengetahuan sistematis sehingga diperoleh pemahaman yang jelas mengenai objek studinya tersebut. Pedagogik juga bertugas untuk membangun sistem pengetahuan mengenai bagaimana seharusnya pendidik bertindak dalam rangka mendidik anak.
Karena pedagogik bersifat normatif, pedagogik berguna dalam rangka mengenali diri dan melakukan koreksi atas diri sendiri demi “menyempurnakan” diri sendiri, yang artinya pedagogik memberikan pentunjuk tentang apa yang seharusnya mengenai pribadi pendidik dan bagaimana seharusnya pendidik bertindak dalam rangka mendidik anak.
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Pedagogik bertugas untuk mempelajari fenomena pendidikan untuk sampai membangun suatu pengetahuan sistematis sehingga diperoleh pemahaman yang jelas mengenai objek studinya tersebut. Pedagogik juga bertugas untuk membangun sistem pengetahuan mengenai bagaimana seharusnya pendidik bertindak dalam rangka mendidik anak.
Karena pedagogik bersifat normatif, pedagogik berguna dalam rangka mengenali diri dan melakukan koreksi atas diri sendiri demi “menyempurnakan” diri sendiri, yang artinya pedagogik memberikan pentunjuk tentang apa yang seharusnya mengenai pribadi pendidik dan bagaimana seharusnya pendidik bertindak dalam rangka mendidik anak.
B.
SARAN
Kami
sebagai penulis sangat berharap agar makalah yang kami buat ini berguna bagi
semua yang membacanya, terutama calon-calon guru yang akan memahami
perkembangan anak. Makalah ini akan sangat berguna baginya, jika ia ingin
mengetahui kompetensi pedagogik
Langganan:
Komentar (Atom)